19 Agustus 2019 | Esai | 1481 hits

Tradisi dan Dialektikanya Dalam Sastra

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
Oleh Abdul Hadi W. M.

            Panitia Munsi II meminta kami membicarakan tradisi dan dialektikanya dalam sastra. Khususnya dalam sastra Indonesia modern yang usianya telah menapak hampir satu abad setelah munculnya roman karangan Merari Siregar, novel Mas Marco dan puisi-puisi tanah air karangan Muhammad Yamin. Karangan-karangan penulis yang telah disebut ini dianggap sebagai tonggak lahirnya sastra Indonesia modern.  Dikatakan modern karena menyimpang dari tradisi penulisan sastra sebelumnya. Penyimpangan itu dilakukan secara sadar demi pembaruan. Pengaruh sastra Barat menjadi salah satu ukuran bagi penyimpangan dan kebaruan.  Sedangkan karangan-karangan penulis Indonesia lama, khususnya Jawa dan Melayu, dianggap sebagai karya tradisional. Menurut pandangan baru itu karya penulis Nusantara lama dipandang telah kehilangan arti dalam masyarakat baru yang sedang tumbuh.

            Sebelum berbicara lebih lanjut izinkanlah saya mengupas dulu pengertian ‘tradisi’ dan kaitannya dengan pembicaraan tentangnya dalam sejarah sastra Indonesia. Secara umum apa yang dimaksud tradisi selalu diartikan sebagai kebiasaan-kebiasaan dan sistem kepercayaan yang diwariskan secara turun temurun di dalam suatu masyarakat dalam jangka masa yang lama. Jadi apa yang disebut tradisi ialah segala  kebiasaan yang dipatuhi  oleh semua anggota masyarakat tanpa pemikiran yang kritis. Misalnya apa yang disebut tradisi penulisan sastra atau puisi. Di Jawa, Bali, Sunda dan Madura orang harus mematuhi kovensi-kovensi tertentu dalam menulis puisi apkah ia harus menulis dalam bentuk tembang macapat seperti  sinom, durma, maskumambang, kinanti dan pucung. Atau menulis dalam bentuk singir (syair di Jawa) dan syi`ir (Madura). Di kalangan orang Melayu terdapat bentuk penulisan puisi dengan aturan ketat seperti syair, pantun, talibun, seloka, bahasa berirama, dan lain sebagainya. Dalam kaitan ini tradisi disamakan dengan konvensi atau  norma yang sifatnya menyejarah, suatu himpunan aturan atau hukum tak tertulis mengenai suatu kegiatan anggota sosial dalam masyarakat, yang di dalamnya termasuk aturan penulisan berbagai bentuk karya sastra.  Dalam hubungan ini muncul istilah ‘tradisionalisme’ yang diturunkan dari kata ‘tradisi’ dan  sering diartikan sebagai ‘sastra lisan’, karena konvensi-konvensi dan norma-norma  yang harus diikuti itu lazim disampaikan secara lisan. Wikipedia misalnya mengartikan tradisi sebagai suatu kebiasaan atau kepercayaan yang hidup dalam janga masa yang lama.

            Pengertian tradisi seperti itulah yang diterima oleh para pengarang Indonesia pada abad ke-20 M. Dari pengertian seperti itulah muncul pembedaan tajam antara tradisi dan modern, tradisi dan modernitas. Pembedaan itu pulalah yang mendorong Sutan Takdir Alisjahbana menerbitkan antologu Puisi Lama dan Puisi Baru pda tahun 1930an pada saat lahirnya Poedjangga Baroe. STA dan kawan-kawannya kemudian memberi sub-judul semboyan dari majalah yang diterbitkan Poedjangga Baroe dengan kata-kata “Pembawa Semangat Baru Dalam Kesusastraan” (C. Hooykaas 1977:45).

            Cara memandang tradisi seperti itu dapat dikatakan linear. Ia meletakkan tradisi sepenuhnya sebagai bagian dari masa lalu dan oleh karena bagian dari masa lalu maka tradisi telah kehilangan eksistensi pada masa kini. Dengan munculnya sastra modern mereka berpendapat tradisi harus minggir dan tak perlu dihadirkan lagi dalam kegiatan penulisan sastra. Norma dan konvnsinya harus ditinggalkan, begitu pula cara penilaiannya. Pandangan seperti itu tentu saja tidak sepenuhnya keliru, namun subyektif. Dan kendati tidak sepenuhnya keliru, banyakkategori sastra yang penting dan relevan bagi kreativitas sastra masa kini dinafikan begitu saja. Menurut pandangan ahli hermeneutika, seperti Gadamer, karya sastra tidak lahir dari kekosongan sejarah dan penikmatan atasnya juga menghadirkan ke dalam dirinya konteks tertentu yang ada dalam sejarah. Yaitu tradisi atau tepatnya tradisi sastra. Rifaterre malah mengatakan bahwa karya seorang penyair itu merupakan jawaban terhadap karya yang telah ada sebelumnya (Pradopo 1989:57; Teuuw 1980:11).  Dalam sejarah sastra dunia, juga dalam sejarah sastra kita, banyak ditemui karya lama tidak mati dan masih memberikan inspirasi kendati karya-karya baru bermunculan dengan berbagai aliran dan wawasan estetika yang melatari penciptaannya. Banyak pula karya lama tidak kehilangan arti dan relevansi dengan munculnya karya-karya baru. Bahkan tidak jarang sebuah karya lama itu lebih hidup dan relevan dibaca untuk memperoleh pengetahuan dan mendapatkan sumber ilham penciptaan karya baru.

            Ambil contoh Oedipus Rex, sebuah tragedi Yunani Kuna karangan Sopocles. Karya itu ditulis pada abad ke-6 SM sebelum lahirnya filsafat rasional Aristoteles. Berkat pembahasan Arstoteles mengenai tragedi karya Sopocles itu terkenal ke seluruh dunia. Sampai kini tragedi itu masih dibaca dan dilakonkan di seluruh dunia, dengan tetap mematuhi pandangan Aristoteles bahwa tujuan penulisan tragedi ialah katharsis. Tidak hanya di Eropa, tempat di mana karya itu lahir tetapi juga di Asia drama Sopocles itu dipentaskan oleh para dramawan. Di Indonesia drama itu pernah dipentaskan misalnya oleh Rendra pada tahun 1970an. Sarjana psikoanalisa seperti Freud pun menjadikan tragedi Yunani Kuna sebagai bahan kajian psikoanalisa. Sebagai karya sastra Oedipus Rex  didasarkan pada mitos. Kini kita dapat membuktikan fiksi bisa lebih hidup dibandingkan banyak aliran filsafat Yunani kuna yang dipandang sebagai hasil pemikiran rasional.

            Bandingkan pula dengan Bhagavad Gita. BG dikarang pada abad ke-3 SM dalam bahasa Sanskerta, bahasa yang sudah dianggap mati. Pada mulanya ia merupakan bagian dari Mahabharata, tetapi kemudian dipisahkan dan tumbuh menjadi karya yang dapat dibaca dan direnungkan sebagai wacana tersendiri. Sampai sekarang kitab itu banyak dibaca begitu banyak orang di dunia, juga dibahas, dikaji dan dijadikan bahan perbincangan sastra dan filsafat.  Apakah BG bukan karya tradisional? Apakah ia sudah mati sebagai bacaan dan pokok pembahasan sastra dan filsafat? Contoh lain ialah puisi-puisi Rumi yang d ditulis pada abad ke-13 dalam lingkungan tradisi sufi Persia yang melahirkan banyak  penyair terkenal dan karya-karya agung.

            Sering dikatakan bahwa karya seorang penyair adalah suara zamannya. Secara tersirat Rumi dalam puisinya.

                        Apa yang memperlihatkan kepada kit
                        Bukti mengenai adanya dunia lain?
                        Perubahan-perubahan besar, terhapusnya masa lalu
                        Hari yang baru, malam yang baru
                        Taman yang baru dan bahaya-bahaya yang baru
                        Pada setiap masa ada pikiran baru
                        Kesenangan baru dan kekayaan baru

                                                (Abdul Hadi W.M. 2013:21)

            Dalam puisinya ini Rumi menyatakan bahwa munculnya karangan-karangan baru dalam sastra adalah keniscayaan sejarah dan tradisi. Tetapi ia menghalangi kehadiran yang lama seperti kesenangan menulis puisi, dan juga tidak menghalangi  hadirnya kembali kekayaan lama berupa khazanah sastra yang telah ada sebelumnya. Sebaliknya ia merupakan bukti adanya dunia lain yang bekerja di sebalik sejarah.

Sastra Indonesia (dengan tambahan kata ‘modern’ atau ‘baru’) diyakini lahir pada tahun 1920an, atau sekitar satu dua tahun sebelumnya. Ia ditandai dengan munculnya roman karangan  Merari Siregar, Mas Marco, Semaun, Marah Rusli, Nur Sutan Iskandar, Abdul Muis dan lan-lain; puisi-puisi dan drama Muhammad Yamin, Rustam Effendy, Sanusi Pane, dan lain-lain (Rachmat Djoko Pradopo 1989:57-8) Ia lahir sebagai proses dialektis antara sastra daerah (baca tradisional) dengan sastra yang telah telah mendapat pengaruh Barat (baca modern). Tetapi agar dapat dijadikan acuan dalam pembicaraan ini, saya ingin menambahkan bahwa secara umum apa yang disebut sastra tradisional ialah sastra lama Nusantara seperti sastra Melayu dan Jawa. Sastra tulis dalam bahasa Jawa mulai muncul pada abad ke-9 M dan berkembang terus hingga abad ke-19 M. Sejarahnya menempuh dua zaman besar yaitu zaman pengaruh Hindu dan zaman kedatangan serta pengaruh Islam. Adapun sastra Melayu yang kita kenal sekarang melalui khazanahnya yang tertulis adalah karangan-karangan yang ditulis sejak abad ke-14 – 19 M bersamaan dengan luasnya penyebaran agama Islam.

Banyak sarjana mengatakan bahwa karya sastra baru lahir sebagai respon terhadap karya sastra sebelumnya, sebab memang tidak ada karya sastra yang lahir dari kekosongan tradisi atau sejarah (Teeuw 1980:11). Setelah munculnya puisi-puisi Muhammad Yamin “Tanah Air”, kemudian puisi Asmara Hadi, Rustam Effendy dan Sanusi Pane pada tahun 1920an;  baru kemudian muncul puisi-puisi Amir Hamzah yang lebih segar dari segi bahasa pengucapan dan semangat, dan kemudian setelah itu muncul puisi-puisi Chairil Anwar yang melakupan lompatan lebih jauh. Sekalipun kenyataannya demikian, masih banyak sarjana meyakini bahwa sastra modern muncul sebagai pemotongan terhadap sastra lama. Mereka berpendapat demikian karena mengatrikan tradisi sebagai sesuatu yang linear dan hadir dalam waktu tertentu yang sudah berlalu. Pengertian yang linear tentang tradisi itu yang disanggah oleh T.S. Eliot. Dalam esainya  “Tradition and Individual Talent” menulis bahwa tradisi bukan sesuatu yang mati dan tetap hadir dalam kehidupan masa kini kita.

 Menurut dia tradisi adalah bagian dari kebudayaan yang hidup. Walau ia dibentuk di masa lalu  tetapi ia masih berfungsi membentuk tradisi-tradisi berikutnya di masa kini. Tradisi memang terikat dengan sejarah dan mengandung persepsi tentang masa lalu, akan tetapi bukan sesuatu yang hilang atau sesuatu yang sepenuhnya tanpa arti dalam masa kini. Pandangan ini lahir sebagai tanggapan terhadap subyektivisme dan emosionaisme kaum romantik. Baginya tradisi selalu memberikan sesuatu yang baru, menarik perhatian, pengaruhnya vital bagi perkembangan intelektual dan sastra. Tanpa diminta atau diundang, tradisi eksis dan hadir dalam kekinian perkembangan sastra. Ia memberi pengaruh kepada gagasan-gagasan, pemikiran dan kesadaran kita. Tradisi ikut membentuk kesadaran kita tidak hanya mengenai masa silam, tetapi juga berkenaan dengan kehadiran masa kini. Masa lalu sebenarnya juga adalah kekinian kita.

            Eliot melihat tradisi secara spatial, dalam arti bahwa tradisi yang dibentuk dalam proses panjang sejarah di masa lalu adalah juga meruang sifatnya. Ia tidak diikuti oleh kehadiran dan pergantian garis secara linear. Sebaliknya masa lalu dan masa kini berdampingan hadir dalam sebuah tradisi besar. Seperti dikatakan Edward Said dalam Culture and Imperialism (1993), “Penyair, menurut Eliot, benar lahir karena adanya bakat individual. Tetapi ia melakukan kegiatan kepenyairannya di dalam suatu tradisi yang tidak semata-mata ia warisi, melainkan hanya dapat dicapai dengan ikhtiar. Tradisi, lanjutnya, tidak hanya melibatkan makna sejarah, sesuatu yang tak bisa ia ditinggalkan begitu saja oleh setiap orang yang ingin terus menjadi seorang penyair. Terutama setelah usianya mencapai 25 tahun atau lebih. Makna sejarah suatu persepsi, bukan hanya tentang keberlaluan masa lampau, tetapi juga berkaitan dengan kehadiran pada masa kini. Makna sejarah mendorong manusia untuk menulis bukan bersama generasinya pada masa hidupnya, melainkan juga menulis karya dengan suatu perasaan, misalnya bahwa seluruh kesusastraan Eropa sejak Homeros dan juga bahwa di dalamnya seluruh kesusastraan dari negerinya sendiri memiliki keberadaan simultan dan membentuk tatanan simultan.”

Makna sejarah yang dimaksud di sini menyangkut ‘yang abadi’ dan ‘yang  sementara’ sekaligus. Kesadaran rangkap tentang ‘yang abadi’ dan ‘yang sementara’ inilah yang membuat seorang penulis menjadi tradisional. Tetapi pada saat yang sama  membuat seorang penulis sadar akan tempatnya di dalam ruang waktu dan dalam kekiniannya. Tidak ada penyair, atau seniman dari cabang seni mana pun, yang menyimpan makna sejarah selengkapnya. Artinya karya seorang penyair hanya menyimpan sebagian saja dari makna sejarah. Ia hanya bisa diterangkan maknanya melalui karya-karya lain yang telah hadir sebelumnya atau yang mendahuluinya. Begitulah kebermaknaan puisi-puisi Chairil Anwar hanya dapat diterangkan dengan melihat perkembangan puisi  sebelumnya, khususnya puisi-puisi Pujangga Baru seperti Amir Hamzah, Sanusi Pane, J.E. Tatengkeng, Sutan Takdir Alisyahbana dan Armyn Pane. Kebermaknaan puisi Chairil Anwar pula dapat diterangkan lebih jauh dengan melihat perkembangan puisi yang sezaman dengannya. Begitu pula untuk dapat menerangkan puisi-puisi Amir Hamzah, kita perlu membanding dengan puisi-puisi Indonesia sezaman sebelum dan setelah lahirnya Pujangga Baru pada tahun 1930an. Misalnya dengan puisi Muhammad Yamin, Asmara Hadi, Rusttam Effendy dan Sanusi Pane. Bahkan itu pun belum cukup. Untuk menyingkap arti kehadiran puisi Amir Hamzah kita juga harus melihat puisi  Melayu abad ke-16 – 19 M seperti syair-syair Hamzah Fansuri dan gurindam Raja Ali Haji.

Sementara ini saya tak ingin berpanjang-panjang dengan contoh. Seorang penyair mestinya kenal akrab dengan sejarah kepenyairan di negerinya, mengenal perkembangan puisi di tanah airnya, dan tahu wawasan kepenyairan dan estetika seperti apa yang pernah berkembang dalam sejarah sastra nasional di negerinya. Yang lebih penting untuk dikemukakan di sini ialah arti Tradisi (T besar) dalam sejarah sastra Indonesia sebagai kelanjutan dari perkembangan apa yang disebut sastra Nusantara. Hanya dengan berbicara tentang sastra Nusantara, kendati secara singkat, kita mengetahui apa yang dimaksud dengan ‘tradisi sastra’ atau ‘tradisi penulisan kreatif’ dalam konteks sejarah Indonesia. Tanpa bicara kesusastraan Nusantara dan tradisi-tradisinya yang berkembang dan terbentuk dalam sejarahnya, agaknya kita mustahil memahami apa yang disebut tradisi sastra di Indonesia.

            Indonesia adalah negara dan juga bangsa baru di dunia, berlainan dengan Jerman, Iran, Jepang, Inggris dan India. Negara-negara yang saya sebut terakhir ini adalah negara-negara lama yang tradisi sastranya telah lama terbentuk, dalam arti sebagai kesatuan yang melandasi melandasi seluruh tradisi sastranya di dunia modern. Tidak berarti di sana tidak ada tradisi lokal, namun tradisi sastra nasionalnya sudah hadir dan berkembang mantap. Sebagai bangsa baru Indonesia memulai tradisi nasionalnya pada awal abad ke-20 M setelah munculnya gerakan kebangsaan. Sebelum itu bangsa Indonesia telah memiliki tradisi sastra lisan dan tertulis yang terpencar di berbagai daerah.  Banyak dari tradisi atau sastra daeah  ini yang dituturkan secara lisan, tetapi juga tak boleh dipungkiri bahwa banyak  yang dituturkan dalambentuk sastra tulis. Misalnya sastra Jawa, Sunda, Melayu,  Aceh, Bali, Batak, Mandailing, Minangkabau, Bugis, Banjar, Sasak, Madura, Makassar, Palembang, Banjar, dan lain-lain. Dewasa ini kebanyakan dari kita memahami bahwa yang adalah tradisi-tradisi sastra daerah yang terpencar-pencar dan saling tidak berhubungan. Itu pandangan yang keliru dan harus dibetulkan.

            Meskipun sastra daerah itu kelihatan sebagai kumpulan tradisi yang terpencar-pencar,  akan tetapi di antaranya terdapat sastra daerah yang menasional dalam arti berpengaruh bagi perkembangan sejumlah sastra daerah yang lain. Dua di antaranya yang mudah kita pelajari ialah sastra Jawa dan sastra Melayu lama. Dua tradisi sastra daerah ini merupakan induk dari tradisi sastra yang berbagai-bagai di daerah-daerah yang dipengaruhinya, terutama disebabkan hubungan politik, ekonomi dan penyebaran agama besar seperti Hindu, Buddha dan Islam. Pertama, saya sebut tradisi sastra Jawa. Ia meliputi di dalamnya tradisi sastra Jawa Kuna, tradisi Jawa Baru, tradisi Bali, Sasak, Madura dan Sunda. Dan pengaruhnya pun tidak kecil di kepulauan Melayu.

Sastra Jawa mengaami dua fase penting dalam sejarahnya.  Fase pertama munculnya tradisi penulisan sastra pada zaman Jawa Kuna yang dipengaruhi perkembangan agama Hindu dan Buddha. Fase kedua munculnya sastra Jawa baru setelah tersebarnya agama Islam pada abad ke-15 dan 16 M. Demikianlah dalam konteks sastra Jawa apa yang disebut tradisi sastra Jawa itu dalam dirinya telah menyerap banyak pengaruh India, Arab dan Persia. Sampai kini tradisi itu masih hidup dan dirasakan kehadirannya di Bali, Lombok, Madura dan Pasundan. Misalnya cerita pewayangan dan cerita-cerita lain yang lahir pada zaman Majapahit, Demak, dan Mataram.  

            Tradisi Melayu adalah tradisi kedua Nusantara yang paling luas pengaruhnya dan sangat menasional. Ia lahir dan tumbuh subur bersamaan dengan maraknya perkembangan agama Islam serta penyebaran tradisi intelektual dan estetikanya. Sastra Melayu memberi pengaruh besar kepada sastra daerah lain seperti sastra Jawa, Aceh, Sunda, Minangkabau, Palembang, Mandailing, Lampung, Madura, Banjar, Bugis, Makassar, Sasak, Betawi, dan lain sebagainya. Kaya-karya yang muncul dalam sastra daerah yang telah disebutkan ini banyak yang digubah aau disadur dari karya-karya Melayu yang sezaman, dan tidak banyak mengubah wawasan estetika dan corak penulisannya. Maka terdapat banyak kesamaan. Misalnya hikayat-hikayat yang menceritakan kehidupan para Nabi, Sahabat, Wali Sufi dan hikayat-hikayat peperangan (epik). Hikayat peperangan seperti Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Iskandar Zulkarnaen, Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah, Hikayat Hasan dan Husen, dan lain-lain ditemui dalam berbagai sastra daerah seperti Jawa, Sasak, Aceh, Madura, Sunda, dan lain sebagainya. Hikayat-hikayat ini disadur bukan langsung dari hikayat Arab dan Persia, melainkan dari hikayat Melayu. Bukan hanya bahan verbal dari cerita atau narasinya yang diserap dalam sastra Melayu, akan tetapi bahkan  juga wawasan estetika, filsafat hidup yang dikandung di dalamnya, dan bentuk puisi dan prosa yang dijadikan saluran dalam penyampaian pesan keruhanian dan moralnya.  Banyak pengarang lama di abad-abad yang lalu di lingkungan masyarakat sastra Jawa, Sunda dan Madura mengenal dengan baik karya-karya penulis Melayu dan menyadur beberapa hikayat dan karangan-karangan bercorak tasawuf dari khazanah sastra Melayu. Mereka kenal dengan baik siapa Hamzah Fansuri, Syamsudin Sumatra’i, Bukhari al-Jauhari, dan tokoh sastra Melayu yang lain. Pada abad ke18 M  pujangga Surakarta Yasadipura I misalnya telah menerjemahkan Tajussalatin karangan Bukhari al-Jauhari, pujangga Aceh abad ke-16 M. Ia juga menyadur Hikayat Amir Hamzah Melayu ke dalam bahasa Jawa dengan judul baru Serat Menak. Saduran Hikayat Amir Hamzah dalam bahasa Jawa ini kemudian juga disadur lagi ke dalam versi Sunda dan Madura. Risalah-risalah tasawuf Hamzah Fansuri juga disalin ke dalam bahasa Jawa dan Sunda oleh pengarang di wilayah kesultanan Banten pada abad ke-18 M. Ajaran tasawuf Hamzah Fansuri dan Syamsudin Sumatra’i, sufi Aceh abad ke-16 dn 17 M, dijadikan rujukan utama oleh Ranggawarsita dalam menulis karyanya seperti Hidayat Jati dan lain-lain. Interaksi pengarang Jawa, Sunda, dan Madura itu sedemikian aktifnya dengan tradisi Melayu hingga melahirkan tradisi baru yang berlainan dengan tradisi zaman Hindu yang mereka warisi. Ini menunjukkan bahwa sastra daerah tidak sepenuhnya terasing dari sastra daerah lainnya di Nusantara (Baca antara lain Th. Pigeaud 1968;  V.I. Braginsky 1999).

            Kini kita beralih bicara tentang sastra Indonesia mdern. Yang disebut sastra Indonesia modern adalah karya-karya pengarang Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia,  sedangkan asal-usul bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu. Di satu pihak ia bisa dikatakan sebagai sastra baru, yaitu  berdasarkan konteks sejarah kelahirannya pada abad ke-20. Perbedaannya dengan karya-karya Melayu sebelumnya ialah bahwa karya-karya penulis baru itu sudah dipengaruhi oleh tradisi sastra Eropa, sedangkan sastra Melayu memadukan dalam dirinya pengaruh-pengaruh India, Arab dan Persia. Tetapi dilihat dari bahasa yang digunakan sebagai sarana ekspresi, yaitu bahasa Indonesia yang tak lain adalah bahasa Melayu, maka dapat juga dikatakan bahwa sastra Indonesia modern adalah kesinambungan dari sastra Melayu atau Indonesia lama.

            Dengan penggunaan kata ‘baru’ atau ‘modern’ bagi karya penulis 1920an mengesankan telah terjadi pemotongan sejarah atau tradisi. Tetapi benarkah demikian. Mari kita simak kembali puisi-puisi penyair 1920an itu dan kita bandingkan syair-syair Melayu Lama. Misalnya puisi Muhammad Yamin dalam antologi Indonesia Tanah Tumpah Darahku. Kita petik bait pertama:

                        Duduk di pintu tanah yang permai
                        Tempat gelombang pecah berderai
                        Berbuih putih di pasir berderai
                        Tampaklah pulau di lautan hijau
                        Gunung gemunung bagus rupanya
                        Dilingkari air mulia nampaknya
                        Tumpah darahku, Indonesia lamanya

            Bahasa puisi ini masih konvensional. Yang baru adalah isinya, yaitu pengakuan bahwa tanah air penyair bukan hanya Andalas atau Sumatra melainkan Indonesia. Bandingkan pula dengan bait-bait puisi Rustam Effendi dalam “Bebasari” yang ditulis sekitar tahun 1925.

                        Bukan beta bijak berperi
                        Pandai menggubah madahan syair
                        Bukan beta budak negeri
                        Musti menurut undangan mair

                        Syarat saraf saya mungkiri
                        Untai rangkaian seloka lama  
                        Beta buang beta mungkiri
                        Sebab laguku menurut sukma

             Bahasa puisi Rustam Effendy masih konvensional, kendati isinya baru yaitu keinginan bebas penyair dari ikatan lama. Kalau isi dipandang ukuran untuk melihat kebaruan sebuah puisi, agaknya itu tidak. Sanusi Pane, penyair yang sezaman dengannya menulis dalam “Sajak”:

 

                        Di mana harga karangan sajak
                        Bukan dalam maksud isinya
                        Dalam bentuk, kata nan rancak
                        Dicari timbang dengan pilihnya

            Puisi Sanusi Pane jelas lebih personal dibanding puisi Yamin dan dapat dkatakan baru bukan hanya dalam semangat dan jiwa, tetapi juga dalam ungkapan puitiknya (A Teeuw 1979:19-21). Namun tidak bisa  dipandang sebagai benar-benar baru dalam hal puitikanya. Puisi Indonesia sebelum Perang Dunia II mencapai puncaknya dalam karangan  Amir Hamzah, penyair yang diberi julukan Raja Penyair Pujangga Baru. Amir Hmzah dapat dikatakan melakukan lompatan besar, melalui  kemampuannya memadukan semangat romatik Eropa dan semangat romantik penyair sufi. Kehadiran puisi Amir Hamzah  membalikkan pandangan STA yang menganggap jiwa puisi lama atau tradisi telah mati di tangan Pujangga Baru. Puisi-puisi Amir Hamzah justru menghidupkan tradisi puisi Melayu lama, khususnya puisi-puisi penyair sufi seperti Hamzah Fansuri. Ciri puisi sufi ialah adalah personal dengan citraan-citraan simbolik yang hidup. Semangatnya bisa hadir dalam situasi apa pun. Saya ambil contoh satu bait puisi “Berdiri Aku” Amir Hamzah:

 

                        Berdiri aku di senja senyap
                        Camar melayang menepis buih
                        Melayah bakau mengurai puncak
                        Berjulang datang ubur terkembang

                                    (Abdul Hadi W.M. 2001:317}        

            Bandingkan dengan bait puisi Hamzah Fansuri abad ke-16 M:

                        Hamzah Fansuri di dalam Mekkah
                        Mencari Tuhan di Baitil Ka`bah
                        Di Barus ke Quds terlalu payah
                        Akhirya jumpa di dalam rumah

                                             (Ibid hal. 315)

            Telah dikemukakan bahwa makna sejarah dari tradisi mengandung dua aspek yaitu kesementaraan, yaitu kehadirannya dalam waktu pada masa tertentu yang telah berlalu; dan aspek keabadian, yaitu kehadirannya pada masa kini di dalam ruang kehidupan sastra. Dalam kaitannya dengan aspek kedua tradisi dapat dirasakan kehadirnnya setiap kita membicarakan sastra. Dalam kaitannya dengan aspek kesementaraannya itu sebuah puisi, dan karya sastra secara umum, dikatakan sebagai suara zamannya. Maksud pernyataan ‘suara zaman’ ialah bahwa  puisi lahir dalam konteks sejarah tertentu. Ia menyuarakan  aliran-aliran sastra dan pemikiran  yang  dominan pada masa  seorang penyair menulis puisinya.

Dalam kaitannya dengan puisi Amir Hamzah ialah kuatnya pengaruh aliran romantik dan semangat kebangsaan. Di Indonesia aliran romantik menjiwai kreativitas Pujangga Baru, sebuah gerakan sastra 1930an yang terkenal dengan wawasan bahwa “puisi merupakan gerakan sukma yang mengalir ke indah kata”.  Menurut  aliran romantik, puisi harus merupakan pengucapan personal. Kaum romantik pula lazim mengangkat alam sebagai sarana pengucapan jiwa penyair yang dilimpahi pengalaman akan keindahan. Semangat kepenyairan seperti itu sebenarnya juga telah melekat lama dalam tradisi kepenyairan Melayu yang dipengaruhi oleh tasawuf atau estetika sufi (Abdul Hadi W.M. 2001).

            Mengenai puisi Hamzah Fansuri, aspek kesementaraan atau konteks zaman yang melahirkannya memang berbeda. Aliran sastra yang dominan pada masa hidup Hamzah Fansuri tasawuf atau sufi. Semangat kesufian itulah yang membentuk tradisi kepenyairan dalam jangka masa panjang dalam tradisi Melayu. Tetapi karya-karya terbaik dari penyair Melayu lama bukannya tak bisa diapresiasi oleh penyair masa kini dan kehilangan makna.,     Chairil Anwar kita yakini telah melakukan lompatan besar dalam sejarah puisi Indonesia. Pembaharuan yang dilakukan memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan puisi Indonesia setelah proklamasi RI 1945. Tetapi beberapa puisinya masih dibayangi puisi penyair sebelumnya, khususnya Amir Hamzah. Yang paling ketara ialah saj “Doa” dan “Senja di Pelabuhan Kecil”. Dua puisi ini diakui oleh beberapa kritikus seperti A Teeuw sebagai respon terhadap sajak Amr Hamzah “Doa” dan “Berdiri Aku”.  Bahwa beberapa puisi Chairil Anwar masih punya pertautan dengan puisi Indonesia sebelumnya, saya kutip bait pertama dari “Derai Cemara”:

                        Cemara menderai sampai jauh
                        Terasa hari akan menjadi malam
                        Di tingkap ada dahan merapuh
                        Dipukul angin yang terpendam

             Chairil Anwar mengambil citraan alam untuk membangun puisinya, tidak berbeda dengan Amir Hamzah. Bangunan rimanya pula tidak berbeda dengan bangunan rima puisi Amir Hamzh dan Hamzah Fansuri yang elah dikutip. Puisi Chairil Anwar mengambil citraan alam untuk membangun puisinya, tidak berbeda dengan Amir Hamzah. Bangunan rimanya pula tidak berbeda dengan bangunan rima puisi Amir Hamzh dan Hamzah Fansuri yang elah dikutip. Puisi “Derai Cemara” mengandung baik aspek kesemantaraan maupun aspek keabadian (kelanggengan) dari tradisi. Tradisi undur tetapi sekaligus hadir dalam puisi ini. Saya sudahi sampai di sini dulu perbincangan saya tentang tradisi dan dialektikanya. Kesimpulan yang dapat saya kemukakan ialah bahwa pertama apa yang disebut tradisi tidak harus semata dipahami secara linear sebagai kebiasaan-kebiasaan yang hadir hanya dalam jangka waktu tertentu. Tanpa disadari tradisi juga hadir dalam ruang masa kini kehidupan, karena seperti sejarah dalam dirinya tradisi mengandung dua aspek ialah kesementaraan dan keabadian. Banyak puisi yang tergolong bagian dari tradisi hadir di masa kini dengan makna yang segar dibanding puisi-puisi yang ditulis pada zaman kita. Seorang penyair pula tidak pernah bisa hidup atau memiliki keberadaan bermakna jika ia dipisahkan dari lingkungan tradisi bersastra pada zamannya. Penyair adalah suara zaman dan dengan demikian merupakan bagian dari suatu tradisi sastra yang hidup pada zamannya.


Daftar Pustaka

Braginsky, Vladimir. The Heritage of Tradisional Malay Literature.
            
Leiden: KITLV Press 2004.

Eliot, T.S. Critical Essays. London: Faber & Faber,
             1932: p. 14-15.

Hadi W.M., Abdul. Kembali ke Akar Kembali ke Sumber.
            
Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999.

Hadi W. M., Abdul. Tasawuf Yang Tertindas, Kajian
             Hermenutik Terhadap Karya-karya

Hamzah Fansuri. Jakarta: Yayasan Wakaf
             Paramadina 2001.

Hadi W.M., Abdul. “Aceh dan Kesusastraan Melayu”.
             Dalam  Sardono W. Kusumo (ed)

Aceh Kembali ke Masa Depan. Jakarta: IKJ,
             2005: Hal 173-276.

Hooykaas C. Perintis Sastra (edisi baru). Kuala Lumpur:
             Penerbit Fajar Bakti Sdn.Bhd., 1981.

Pigeaud, Th. Literature of Java vol.I. Synopsis of
             Javanese Lierature 900-1900 A.D.
            
The Hague: Martinus Nyhoff 1967.

Pradopo, Rachmat Djoko. Beberapa Teori Sastra,
             Metode Kritik dan Penerapannya.
            
Jakarta: Pustaka Pelajar, Yogyakarta 1989.

Said, Edward W. Kebudayaan dan Kekuasaan.
            
Terj. Rahmani Astuti. Bandung: Mizan, 1996.

Teuuw, A. Modern Indonesian Literature I.  
             The Hague: Martinus Nijhoff, 1979.

Teeuw, A. Membaca dan Menilai Sastra.
            
Jakarta: Gramedia, 1980.